Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Rz Hakim

Rakyat biasa yang senang menulis. Tinggal dan berteduh di rumah singgah Panaongan - Jember.

Menunggu Datangnya Limbah Sandal Jepit

OPINI | 07 January 2012 | 08:00 Dibaca: 696   Komentar: 14   2

Tulisan ini terinspirasi dari topik yang sedang hangat hangatnya diperbincangkan. Sandal jepit. Saya mencoba menuliskannya dari sudut pandang yang paling gampang dilihat.

Limbah sandal jepit

Semakin hari ada saja orang orang berjiwa seni yang menyulap sampah menjadi sesuatu yang lebih berarti. Sesuatu yang tadinya hanya seonggok tak berguna, berubah menjadi sebuah barang yang cantik. Kadang juga langsung terasa manfaatnya. Misalnya, mendaur ulang kaleng bekas menjadi pot bunga.

Apakah hal ini berlaku juga dengan sandal jepit yang rusak dan entah kemana pasangannya? Tentu saja ada hasil karya yang berbahankan sandal jepit bekas. Sayang sekali, jumlah daur ulang sampah bekas tidak bisa menutupi angka limbahnya yang cenderung membanyak.

Tempat limbah sandal jepit yang biasa saya temui :

Apakah anda pernah punya pengalaman seperti saya? Jalan jalan di sepanjang pantai dan menemukan sandal jepit tak bertuan. Tentunya hanya satu, tidak berpasangan. Kadang ada juga pantai sepi pengunjung, tapi ramai dengan sandal jepit yang terdampar.

Sandal jepit yang tak lagi terpakai juga banyak saya temui di rumah rumah. Biasanya, saat saya ke rumah teman atau saudara, ada saja pemandangan ini. Sandal jepit bekas bisa bertengger dimana mana. Kadang di pojok garasi, kadang di gudang, di sudut dapur, di sisi kamar mandi, atau malah di teras depan rumah.

Namanya juga sandal rumahan, pasti akan mudah ditemui di rumah rumah. Itulah kenapa sandal jepit digambarkan sangat dekat sekali dengan rakyat.

Solusi terbaik untuk mengatasi sampah sandal jepit

Sebenarnya sandal jepit bisa dimusnahkan dengan cara dibakar. Namun, berhubung berbahan dasar karet, pembakaran sandal jepit hanya akan menimbulkan aroma tidak sedap dan melukai udara.

Yang terbaik adalah dengan mendaur ulang dan menjadikannya sesuatu yang sedikit lebih berarti. Masalahnya, tidak semua orang memiliki waktu (tenaga dan kreasi) untuk mengotak atik sandal bekas.

Akan lebih baik lagi jika sandal yang jepitnya putus misalnya, kita perbaiki lagi sebisanya. Ini untuk memperpanjang manfaat dari sandal itu sendiri.

Yang termurah dan mudah, kita kumpulkan sandal bekas ini di sebuah tempat. Setelah dirasa sangat banyak, kita percayakan saja sampah tadi pada petugas sampah. Dengan harapan, sandal sandal ini nantinya akan di daur ulang secara massal.

Begitulah solusi sederhananya

Sebagaimana yang kita tahu, tema tentang sandal jepit sedang hangat hangatnya dibicarakan. Kemungkinan, ini akan berefek pada penggunaan sandal jepit. Ya benar, sandal jepit sedang naik daun.

Sambil menunggu datangnya limbah sandal jepit, alangkah lebih indahnya jika kita juga memikirkan penanggulangannya.

Salam sandal jepit..!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Mencintai Alam Ala Kebun Wisata …

Rahab Ganendra 2 | | 31 October 2014 | 23:42

Tim Jokowi-JK Masih Bersihkan Mesin Berkarat …

Eddy Mesakh | | 01 November 2014 | 06:37

Bahaya… Beri Gaji Tanpa Kecerdasan …

Andreas Hartono | | 01 November 2014 | 06:10

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 1 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 2 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 4 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 10 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Topik 121 : Persalinan Pervaginam Pd Bekas …

Budiman Japar | 8 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Transjakarta: Busnya Karatan, Mental …

Gunawan Eswe | 8 jam lalu

Kematian Tanpa Permisi …

Anita Desi | 8 jam lalu

Mendaki Dengan Pacar? …

Alan Budiman | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: