Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Nsikome

Live as I want to.. Mencintai gunung, Mengoleksi bunga anggrek, Menggilai Superman DC Comics, Merasa sebagai warga negara dunia, Menulis selengkapnya

Bitung-Sulawesi Utara dan Selat Lembeh yang Sedang Menuju Kehancuran

OPINI | 02 February 2012 | 14:57 Dibaca: 366   Komentar: 4   0

13281940441767653601Photo : Kota Bitung dari Pulau Lembeh (koleksi pribadi)

Saya sangat kaget, ketika dikirimkan sebuah link oleh seorang teman di facebook. Tentang rencana reklamasi lahan laut kota Bitung untuk di buat agar mirip Batam.

linknya ada disini : http://manado.tribunnews.com/2012/01/31/supaya-jadi-mirip-batam-bitung-akan-direklamasi-1000-hektare-untuk-kawasan-ekonomi-khusus

Saya jadi marah, bingung dan kecewa terhadap pemerintah Sulawesi Utara. Apa maksud dan tujuan dari hal tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, beberapa waktu yang lalu, Sulawesi Utara menjadi tuan rumah World Ocean Conference yg pokok utamanya adalah untuk menyelamatkan laut kita, yang merupakan salah satu sumber kehidupan terpenting manusia.

Kemudian, datang rencana pembangunan gila-gilaan yang mengatas namakan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus). Memang, sesuai rencana, pembangunannya akan “disesuaikan” oleh arahan tata ruang serta aturan yang terkait. Namun siapa yang bisa MENJAMIN, bahwa semua itu akan “Sesuai Aturan” dan tidak akan menghancurkan biota-biota laut langka yang berada di perairan selat Lembeh?. Lalu bagaimana dengan MOU Coral Triangle Zone yang kemarin di gaung-gaungkan pada CT Summit di Manado? Apakah itu hanya sekedar show belaka tanpa ada implementasi sungguhan?.

Melihat rencana proyek reklamasi tersebut, saya sungguh prihatin, sebab sudah pasti itu akan merusak kehidupan biota bawah laut di Selat Lembeh yang sangat terkenal hingga ke dunia internasional. Seorang teman diver saya dari luar negeri (fotografer underwater) bahkan pernah menyatakan, bahwa biota laut yang ada di perairan Lembeh jauh lebih bagus dan indah dari Bunaken, serta banyak yang tidak pernah dia lihat ditempat manapun di dunia.

Apakah kita lupa dengan akibat dari reklamasi pantai Manado, yang mengkibatkan sampah-sampah yang berdatangan tanpa henti ke taman laut Bunaken?. Sudahlah, itu sudah terjadi, namun mengapa kita tidak belajar dari hal tersebut?.

Hanya atas nama pembangunan, ekonomi, lalu kita akan mengorbankan keselamatan anak cucu kita dimasa yang akan datang demi semua hal yang hanya akan mendatangkan keuntungan besar pagi para penjahat ekonomi “white collar”?.

Minggu lalu, saya sempat jalan-jalan ke Pulau Lembeh untuk mengunjungi kerabat, dan seperti biasa, selalu terpesona dengan keindahan laut, pulau-pulau mini di antara daratan kota Bitung dan Pulau Lembeh. Mungkin benar, pembangunan itu akan berdampak besar pada ekonomi masyarakat di sekitarnya, namun saya pesimis, apalagi banyak mengingat pembangunan-pembangunan yang dilaksanakan pada akhirnya malah hanya menguntungkan segelintir pihak-pihak, dan bukan masyarakat umum.

Konsep ini menurut gubernur Sarundayang terimplementasi dalam master plan percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011‑2015. Itu memang adalah sebuah rencana yang positif, dan bahkan bisa membangun ekonomi masyarakat kota Bitung, namun, reklamasi laut seluas 1000 hektar yang bisa berakibat pada rusaknya biota laut di perairan Lembeh sepadan dengan semua pembangunan atas nama ekonomi tersebut?.

Apakah kita tidak malu, pernah menjadi tuan rumah sebuah iven internasional tentang penyelamatan laut dan kemudian membuat sebuah langkah yang kontradiksi dengan semua itu?. Apalagi, gubernur Sulawesi Utara oleh masyarakat Sulawesi Utara di anggap sukses dalam menyelenggarakan iven World Ocean Conference tersebut. Jika kemudian reputasi tersebut harus ternoda dengan pembangunan atas nama ekonomi, apakah itu sepadan?.

Saya, hanyalah seorang awam yang tidak terlalu mengerti tentang hal-hal teknis dan ilmiah sehubungan laut dan biota-biota yang berada di dalamnya, namun saya tahu benar, bahwa kelangsungan hidup manusia sangat bergantung pada laut. Apalagi dengan global warming yang semakin parah akhir-akhir ini. Saya hanya berharap, semoga pemerintah Sulawesi Utara mau berpikir 1000 kali sebelum membut keputusan tentang hal diatas, agar tidak akan ada penyesalan dikemudian hari!!!

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

‘Gabus Pucung’ Tembus Warisan Kuliner …

Gapey Sandy | | 24 October 2014 | 07:42

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 4 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 4 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 5 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 8 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Tips COD (Cash on Delivery) an untuk Penjual …

Zanno | 10 jam lalu

DICKY, Si Chef Keren dan Belagu IV: Kenapa …

Daniel Hok Lay | 10 jam lalu

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 11 jam lalu

Dosen Muda, Mana Semangatmu? …

Budi Arifvianto | 11 jam lalu

Aku Berteduh di Damai Kasih-Mu …

Puri Areta | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: