Artikel

Polusi

Leni Marlin

TERVERIFIKASI

Jadikan Teman | Kirim Pesan

26. bekerja di sebuah penerbitan. tinggal di jogja. loves bob dylan. bisa ketemu juga di www.lenimarlin.wordpress.com.

Agak Jauhan Dikit Dong!


OPINI | 19 February 2012 | 19:04 Dibaca: 269   Komentar: 8   Nihil

Pagi tadi, saya bersama teman jalan-jalan ke Sunday Morning atau sunmor - istilah kerennya. Sunmor adalah semacam pasar tumpah di sepanjang jalan kampus UGM, Yogyakarta. Diadakan tiap hari Minggu, mulai pagi hingga menjelang siang. Isinya macem-macem, ada penjual baju, tas, korden, sepatu, hamster, wall sticker, sampai penjual jajanan.

Ini kali keempat saya ke sunmor, berturut-turut. Ketagihan sih sebenarnya. Awalnya cuma pengen beli korden dengan harga miring. Setelah itu, menemani teman lain membeli korden juga. Selanjutnya sekadar pengen jalan-jalan pagi sambil nyemil jajanan seperti pukis, cimol, bakso goreng, dan banyaaak lagi.

Dari keempat kunjungan tersebut, ada satu hal yang mengganggu saya. Mengganggu sekaligus merepotkan. Gimana nggak, karena tujuan saya hanya untuk nyemil sambil cuci mata, maka segera saja saya menyadari bahwa saya nggak melihat satu pun tempat sampah di sepanjang jalanan yang saya lewati. Dengan terpaksa, saya bawa pulang itu bungkusan kosong ke rumah.

Kalau mau, nggak perlu begitu-begitu juga sih. Wong udah kotor juga. Semua orang tinggal buang aja sembarangan. Apa sih pengaruhnya kalo saya nggak buang?

Pengalaman lain adalah ketika saya berpergian naik KA ekonomi. Seorang ibu tidak menegur anaknya yang membuang sampah lewat jendela kereta. Yang membuat tambah miris, ia juga ikut-ikutan membuang bungkus makanan lewat jendela. Ah, pantas aja. Padahal di sebelah tempat itu sudah tersedia kantong kresek hitam (lagi-lagi tidak ada tempat sampah khusus di KA tersebut).

Mengapa sih sebenarnya kita perlu membuang sampah pada tempatnya? Biar indah dong, biar nggak mengganggu mata, biar bersih dan kita semua nggak terganggu penyakit. Kalo dekat kali, biar airnya mengalir lancar, nggak terhambat oleh sampah-sampah, dan nggak mengakibatkan banjir. Kalo banjir, emangnya siapa yang dirugikan?

Ketiadaan fasilitas seperti di sunmor dan KA tadi mestinya bukan alasan. Meskipun itu menjadi satu kritik tersendiri bagi pihak terkait. Memang sih, pemerintah kita belum bisa seperti Singapura yang dipuji-puji karena berani menerapkan aturan ketat soal membuang sampah sembarangan. Katanya karena kekurangan fasilitas pengawasan. Ya, paling tidak bisa dimulai dari itikad baik. Bukan cuma dari rakyat, eh salah ya, bukan cuma dari pemerintahnya, tapi dari rakyatnya juga. Rakyat belajar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Sementara pihak terkait menyediakan tempat sampah yang bisa dijangkau oleh semua orang sehingga himbauan “Jangan Buang Sampah Sembarangan” itu ada solusinya. Lah, jika kasusnya seperti yang tadi kan sedikit repot. Dilarang membuang sampah sembarangan tapi tempat sampah yang tidak sembarangan juga tidak ada.

Yang menggelitik itu gini, salah satu penjual di sunmor menyertakan sebuah catatan kaki (artinya: diletakkan sejajar dengan kaki alias di tanah di samping barang jualannya) yang berbunyi demikian : “Tolong, jangan buang sampah di sekitar sini!” Bisa berarti “jangan buang sampah sembarangan dong ah, mengganggu kita semua!” atau, “buang sampah boleh, tapi agak jauhan dikit yaa..” Hehehe.

Salam.

 
Tulis Tanggapan Anda
Guest User

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: