Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Danau Maninjau Terkini: Kisah Asmara yang Tercemar

HL | 19 February 2012 | 10:01 Dibaca: 3210   Komentar: 17   2

13296718161254661529

Sumber indonesianbeach.com

Sudahkah anda mengunjungi danau maninjau?

Danau maninjau merupakan salah satu danau terindah di indonesia yang berada di Sumatera Barat, berketinggian sekitar 461 meter diatas permukaan laut dengan arsitektur dikelilingi bukit yang menawan. Dengan luas sekitar 100 km2, danau ini merupakan kejaiban alam yang luar biasa dan tempat yang tepat untuk menenangkan diri dan menikmati hidup yang tenang. Untuk sampai ke danau salah satu alternatif jalan yang dianjurkan adalah mengambil jalur jalan curam menurun dari Bukittinggi. Perjalanan akan berliku-liku dan bertikungan tajam sejauh 10 km  yang dikenal dengan sebutan ” Kelok ampek puluah ampek (kelok 44). Perjalanan ke danau yang menegangkan dari Bukittinggi akan terobati karena akan memukau kita dengan pemandangan luar biasa ke arah danau biru berkilauan dan bukit-bukit sekitarnya. Apalagi jika kita sampai pada pagi hari kala matahari sedang beranjak naik, kabut dan kilauan keemasan dari danau akan menciptakan sensasi yang luar biasa!Selain dari Bukittinggi bisa juga melewati jalur alternatif  dari Kota Padang menuju Pariaman dilanjutkan ke Lubuk Basung ibukota Kabupaten Agam dilanjutkan ke danau maninjau. Kedua alternatif tersebut memakan waktu lebih kurang 3,5 jam perjalanan.
Danau Maninjau merupakan sumber air sungai Batang Sri Antokan yang dihulunya terdapat PLTA Maninjau. Puncak  tertinggi diperbukitan sekitar Danau Maninjau dikenal dengan nama Puncak Lawang tempat untuk bermain terbang layang. Didanau ini kita dapat berenang, memancing serta bertualang dengan sepeda mengelilingi danau. Disekitar danau ini banyak terdapat penginapan berupa Homestay, Hotel, Cafe, dan resort yang ada diperbukitan sekitar danau. Didabau iji juga kita dapat menikmati  berbagai masakan dan makanan khas masyarakat Maninjau seperti Palai Rinuak, Bada Salai, Ikan Bakar, Pensi yang tidak terdapat di daerah lain.

Namun, kini semenjak “boomingnya” keramba jala apung di Danau Maninjau yang hampir mencapai 1500 -an uni keramba jala apung mengakibatkan kondisi air danau menjadi hijau dan berbau. Hal ini disebabkan karena kematian massal ikan keramba yang hampir berlangsung setiap tahun. Pada bulan Februari ini , Badan Pengelola Kelestarian Danau Maninjau (BPKDM) merilis ikan yang mati di Danau Manin­jau mencapai 130 ton. Kematian ikan disebabkan oleh masuknya mikroskopis yang mengambang di permukaan air ke insang ikan di dalam keramba. Mikroskopis tersebut dipicu dari nitrogen dan fosfor dari sisa pakan yang telah banyak menumpuk di dasar danau. Timbulnya mikroskopis ini  dipicu musim angin dan penghujan yang mengaki­batkan ‘booming” mikro­skopis masuk ke insang menjadikan ingsang ikan berlen­dir sehingga membuat ikan sulit bernapas. Air danau pun berubah warna menjadi  hijau lumut, akibat ber­kem­bangnya sejenis plankton da­lam air danau.

Kondisi ini mengakibatkan tidak ada lagi turis mandi-mandi di Danau Maninjau. Jangankan untuk mandi, mencu­ci tangan pun mereka enggan di danau. Pengusaha penginapanpun, seper­ti hotel dan home stay semakin lengang. Satu persatu home stay gulung tikar. Tidak banyak yang mampu bertahan. Pengusaha hotel menuding penyebabnya menurunnya jum­lah kunjungan wisatawan ke Manin­jau adalah  pem­bang­unan Keramba Jaring Apung  yang tidak ter­ken­dali sehingga air danau tercemar.

Menurut tetua masyarakat dulu, sebelum Keramba-keramba yang jumlahnya ribuan, tubo belerang hanya sekali setahun menyerang penghuni danau. Itu pun bila angin darek (angin darat)  bertiup kencang, mengaduk isi perut danau. Kotoran yang ada di dasar danau mengapung ke permukaan. Kemudian dihanyut­kan ke Batang Antokan. Proses itu disebut warga sekitar sebagai pembersihan danau secara ala­mi. Namun semenjak adanya PLTA maninjau dan usaha masyarakat berupa keramba jaring apung yang tidak terkendali danau menjadi tercemar dan akan sangat sulit di recovery jika Pemerintah tidak turun tangan mengendalikan pertumbuhan keramba jaring apung tersebut.

Penulis berharap janganlah “keserakahan”  membuat kita lupa akan pelestarian lingkungan.  Jangan rusak keindahan ciptaan Tuhan ini hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok tanpa memperhatikan orang lain yang juga ingin menikmati keindahan alam ini.  Ingatlah kembali kisah  terjadinya danau ini akibat kisah asmara  sani dan sigiran yang menyangkal berbuat amoral dan bersumpah palsu jika gunung ini tidak akan meletus setelah mereka melompat kedalamnya maka itu sebagai bukti bahwa mereka tidak berbuat amoral. Namun ternayata gunung tersebut meletus dan membuat kawah besar dan diisi air dan menjadi danau seperti sekarang dalam legenda “Bujang Sembilan” . Biarkan danau indah ini terus menjadi saksi dua kisah anak manusia yang terlena dalam kisah asmara!

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | | 28 November 2014 | 11:45

Harusnya Nominal Subsidi Tetap 1500 Perak, …

Dhita A | | 28 November 2014 | 13:34

Terpana Danau Duma …

Lukman Salendra | | 28 November 2014 | 12:25

Senangnya Terpilih Menjadi Host Moderator …

Edrida Pulungan | | 28 November 2014 | 13:43

Ayo Tulis Ceritamu untuk Indonesia Sehat! …

Kompasiana | | 25 November 2014 | 21:46



HIGHLIGHT

Perkembangan Pandangan “Kiri” …

Bobby Rizky Irawan | 8 jam lalu

PreJebul: Rumah …

Kampretos | 8 jam lalu

Madura Touring …

Poernamasyae | 8 jam lalu

Impian Saya, Ayah Memberdayakan Diri …

Giri Lumakto | 8 jam lalu

Memilih Kendaraan Pengantin yang Sederhana …

Mas Ukik | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: