Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Norm(a) Rahmawati

Merantau, Membaca, Belajar, Menullis... Fighting m/

Tentang Tomcat, Boleh Waspada Tapi Jangan Takut

HL | 19 March 2012 | 16:08 Dibaca: 2266   Komentar: 41   6

1332173373415271167

Tomcat,  serangga kecil berwarna mencolok dengan nama latin Paederus riparius ini mulai ramai dibicarakan dan diresahkan terutama oleh warga Surabaya Timur. Serangga ini kurang familiar dimata masyarakat, namun siapa sangka keberadaannya dapat menyebabkan penyakit yang menyerupai herpes biasa disebut dermatitis paedrus. Serangga ini tidak menyengat maupun menggigit, namun memiliki Kelenjar Hemolympha yang mengandung Paederine dan akan mengenai kulit apabila serangga ini remuk. Jadi, jika serangga ini tidak remuk, maka Paederine yang tersimpan dalam hemolympha tidak akan mengenai kulit. Umumnya, serangan Tomcat terjadi sepanjang tahun namun mencapai puncak pada Juli-September yang memiliki kelembapan iklim.

Lalu Siapakah yang patut disalahkan ketika serangga kecil ini menyerang sejumlah pemukiman sekitar Pantai Timur Surabaya?. Seperti kata seorang aktifis lingkungan, Bapak Wawan Some, bahwa  serangan Tomcat ini disebabkan karena kawasan hutan Mangrove yang menjadi habitat serangga Tomcat sudah gundul serta populasi burung yang menjadi predator Tomcat sudah berkurang sehingga menyebabkan populasi serangga ini menjadi tak terkontrol dan menyerang perumahan manusia. Peristiwa tersebut mengingatkan Saya akan beberapa kasus serupa ulat bulu yang menyerang sejumlah kawasan dengan jumlah yang mengerikan, Orang Utan yang dianggap hama karena menyerang perkebunan kelapa sawit, dan juga burung-burung yang mengganggu penerbangan pesawat di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Sebelumnya Saya pernah mengunjungi Ketua tani mangrove Wonorejo, Bapak Sonny dan Beliau mengeluhkan bahwa burung-burung itu singgah di Juanda karena habitatnya yang seharusnya di kawasan mangrove Pamurbaya itu sudah semakin rusak dan terganggu oleh aktifitas manusia.

Jangan sampai Kita dikalahkan oleh rasa takut sehingga mengambil tindakan yang semestinya tidak dilakukan. Hanya dengan membunuh atau memusnahkan hewan-hewan tersebut saja bukanlah menyelesaikan masalah. Hal yang seharusnya sejak dulu Kita lakukan adalah mengembalikan habitat mereka dengan melakukan restorasi dan menjaga kelestarian dalam hal ini adalah hutan mangrove di sepanjang Pamurbaya. Kegiatan eksploitasi seperti reklamasi pantai, penebangan liar, wisata mangrove secara komersial tanpa pertimbangan kelestarian alam, dan tindakan-tindakan lain yang mengancam kelestarian ekosistem di mangrove Pamurbaya sudah saatnya dihentikan.

Bagi warga Surabaya maupun warga Indonesia dimanapun berada yang dilanda keresahan akan serangan serangga kecil ini, berikut beberapa tips menghindari serangga Tomcat dari Andry Wibowo yang saat ini menjadi dokter di RS dr Oen Surakarta : Jaga kebersihan kamar, matikan lampu saat malam hari, serta beri kawat kasa pada kamar. Selain itu juga terdapat beberapa tips dari artikel yang Saya baca : Apabila ada kumbang yang hinggap di kulit jangan mematikannya di tubuh namun tiup hingga pergi, jika kulit mengalami kontak dengan serangga ini, segera cuci bagian yang terkena dengan air dan sabun, jangan menggaruk luka karena racunnya dapat berpindah ke bagian lain kulit lewat cairan di luka, gunakan jaring nyamuk atau semprot aerosol  atau pestisida organik dari campuran laos, daun mimba, dan sereh untuk mematikan kumbang yang masuk. Penyakit dermatitis akibat Paederus ini dapat diobati dengan kortikosteroid topikal. Dengan pengobatan, umumnya luka akan membaik dalam 10 hari hingga tiga minggu tanpa menimbulkan bekas. Namun, luka dapat membekas jika melibatkan dermis. Dokter menyarankan supaya menghindari sinar matahari agar tak terjadi inflamasi luka yang menyebabkan bekas kehitaman.

Semoga Kita lebih bijak dalam membaca dan menyelesaikan suatu permasalahan. :)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 6 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 8 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 9 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 10 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 7 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 7 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 8 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 8 jam lalu

Resiko Terlalu Banyak Informasi Diri di …

Opa Jappy | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: