Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Desy Visnu

trust ur self.

Sampah Visual

OPINI | 15 June 2012 | 09:17 Dibaca: 153   Komentar: 1   1

TELANJANGI YOGYAKARTA DARI SAMPAH VISUAL

Tampaknya, kebersihan fasilitas luar ruang sudah bukan merupakan hal yang penting lagi. Dapat dikatakan demikian, karena dengan banyaknya umbul-umbul, banner-banner, rontek-rontek, serta poster-poster iklan yang terpampang, dipasang dan ditempel disembarang tempat, seperti halte bus, tiang-tiang listrik, juga di pembatas-pembatas jalan yang seharusnya dihiasi dengan pepohonan hijau, bukan malah dihiasi dengan ‘warna warni’ seolah para desainer iklan sedang berlomba membuat iklan. Kota Yogyakarta ini sudah digerayangi dengan iklan-iklan promosi produk, atau konser musik, dan berbagai macam iklan lainnya yang malah menjadikan sampah-sampah visual yang kian membanjir. Contohnya, seperti iklan yang sudah kadaluarsa, dalam artian iklan tersebut dipajang dan dipublikasikan untuk acara tertentu dan ketika acara tersebut sudah berakhir, iklannya masih menempel dan terus terpampang menghiasi jalanan dan sudut-sudut kota pelajar ini.

Halte bus, tiang listrik juga pohon, tentu bukan tempat yang layak untuk digunakan sebagai ajang promosi, sekalipun para pemasang iklan memiliki ijin untuk memasang iklan-iklan yang mereka miliki, tetapi yang terjadi justru penyalahgunaan media-media luar ruang, yang akhirnya menciptakan sampah yang justru diabadikan. Berapa banyak iklan-iklan yang sudah selesai massanya dalam pemasangan iklan tersebut? Dimana tanggung jawabnya setelah selesai menempelkan iklan-iklan itu? Saya mengambil contoh lain, misalnya, rontek-rontek yang dipasang asal-asalan, seperti di daerah perempatan Babarsari-UPN Veteran-Ring Road dan berbagai poster yang ditempel menghiasi tembok, juga rontek-rontek yang menghiasi pagar. Hal tersebut tentu menyalahi peraturan, karena itu adalah tembok dari suatu Universitas, yaitu UPN Veteran, tetapi malah dikotori dengan sampah-sampah visual tersebut. Dan sampai sekarang masih dapat kita temui serta lihat dengan jelas. Namun, adakah kepedulian mengenai hal-hal tersebut?

Kiranya sangat diharapkan adanya ketegasan dari Pemerintah dalam menindaklanjuti sampah-sampah visual ini. Pemerintah tentu memegang peran utama dimana dapat memberikan peraturan yang jelas dan tegas dalam pemasangan iklan tersebut, sehingga ada kontrol sosial di dalam masyarakat. Juga diharapkan bukan dengan Pemerintah yang menerima dengan mudahnya perijinan dalam pemasangan baliho atau umbul-umbul dan rontek-rontek di sudut daerah-daerah tertentu, hanya untuk pendapatan semata. Dimanakah keindahan kota ini? Kapankah mata kita diistirahatkan dengan pemandangan bersih yang dihiasi indahnya pepohonan nan hijau di kota tercinta, Yogyakarta?

Desy Sylvia Indra Visnu

FISIP - Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 18 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 20 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 20 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 21 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: