Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Heddy Yusuf

Aku tinggal di Karawang, Antara Karawang bekasi terkubur tulang-tulang para pahlawan yang berserakan dalam puisi selengkapnya

Bakar Sampah

OPINI | 17 August 2012 | 23:38 Dibaca: 530   Komentar: 2   0

Apapun alasanya membuang sampah dengan cara membakar adalah cara yang salah. Apalagi saat ini memasuki musim kemarau, akan sangat membahayakan bagi sekitar lingkungan, polusi. Seharusnya dibuang di tempat sampah yang disediakan oleh pemerintah, dengan demikian lebih aman.

Apalagi jika sampah tersebut sampah industri, pada musim kemarau ini masyarakat tidak melakukan pembakaran. Maka dari itu diminta kepada semua pihak mulai dari polsek, Kecamatan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya membakar sampah dengan cara tradisional.

Perbanyak edaran disertai pendekatan secara persuasif kepada masyarakat, dan semua elemen masyarakat dapat mendukung hal ini demi kebaikan bersama, sehingga tidak sampai terjadi kebakaran, sebab jika sampai terjadi kebakaran semua hanya akan merugikan kita sendiri.

Kabarnya di Solo Jawa Tengah, warga yang membakar sampah di pekarangan rumahnya bakal bisa terkena hukuman pidana tiga bulan kurungan dan atau denda Rp 50 juta. Aturan itu tertuang dalam Perda Pengelolaan Sampah yang dibahas di DPRD terlebih dahulu.

Di Karawang harus ada hearing yang digelar Pansus Pengelolaan Sampah dengan sejumlah SKPD, perwakilan masyarakat dan LSM di gedung DPRD, masalah pemberian sanksi pidana dan larangan itu terkait dengan UU RI No.18 TH 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, Bab X Larangan, Pasal 29, Ayat (1) huruf g. Membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah.

Sudah waktunya harus ada Perda Pengelolaan Sampah dan dimuat sejumlah larangan, di antaranya membakar sampah di pekarangan rumah kecuali dengan persyaratan teknis, juga mengais-ais sampah di tempat pembuangan akhir, atau yang membuang sampah sembarangan dan sejumlah larangannya.

Ada cerita lucu, dulu tahun 1945 Soekarno Hatta diculik sejumlah pemuda revolusioner ke Rengas Dengklok Karawang. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Rengas Dengklok ditengah perjalanan terlihat asap mengepul membumbung tinggi.

Semua orang di mobil turun di tengah sawah, tiba-tiba salah seorang pemuda revolusioner  berteriak, ”jangan pergi bung, lihatlah rakyat sudah mulai marah, mengamuk, rakyat membakar kota, revolusi sudah terjadi,” katanya dengan bersemangat.

“Tidak, kita tetap lanjutkan perjalanan ke Jakarta, kita buktikan dulu apakah asap itu berasal dari rakyat yang marah atau bukan,” ujar Soekarno.

Ternyata setelah rombongan Soekarno Hatta melihat dengan jelas, ternyata asap tersebut berasal dari seorang petani yang sedang membakar sampah.

Kini Karawang kota industri, bukan kota padi lagi. Sampah industri bukan sampah petani yang harus dibakar seperti tahun 1945 lalu. (Heddy)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bergembira Bersama Anak-anak Suku Bajo …

Akhmad Sujadi | | 17 September 2014 | 05:23

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48

Jokowi Menghapus Kemenag atau Mengubah …

Ilyani Sudardjat | | 17 September 2014 | 13:53

Menempatkan Sagu Tidak Hanya sebagai Makanan …

Evha Uaga | | 16 September 2014 | 19:53

5 Hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam …

Hendra Makgawinata | | 17 September 2014 | 19:50


TRENDING ARTICLES

Ternyata Gak Gampang Ya, Pak Jokowi …

Heno Bharata | 11 jam lalu

Bangganya Pakai Sandal Jepit Seharga 239 …

Jonatan Sara | 12 jam lalu

Invasi Tahu Gejrot …

Teberatu | 13 jam lalu

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 15 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 15 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Inggris tanpa Raya, Nasib istilah …

Adie Sachs | 7 jam lalu

Kupangku Kasihku (MDK) #1 …

Pietro Netti | 8 jam lalu

HL Bukan Ambisi Menulis di Kompasiana …

Much. Khoiri | 8 jam lalu

Metode Baru Pilkada(sung) …

Muksalmina Mta | 8 jam lalu

[Fiksi Fantasi] Kisah Penemuan Serum …

Mustafa Kamal | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: