Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Ina Asriadi

Selalu ada kata, tempat dan peristiwa untuk dituliskan. Setiap tulisan, bermanfaat dan menginspirasi....semoga

Cangkang Kerang Hijau untuk Penjernih Air

REP | 20 October 2012 | 11:53 Dibaca: 2167   Komentar: 10   0

Kerang Hijau (Perna viridis) adalah moluska yang mempunyai cangkang yang simetris.  Panjang cangkangnya lebih dari dua kali lebarnya, mempunyai insang yang berlapis-lapis dan mempunyai cilia. Hidup menempel pada benda-benda keras dengan bantuan benang byssus yang dihasilkan oleh kelenjar kaki.

Kerang Hijau ini merupakan salah satu hasil laut  yang dikonsumsi luas oleh masyarakat di Indonesia dan dimanfaatkan sebagai salah satu sumber protein hewani.  Memiliki kandungan gizi yang cukup baik, berdasarkan hasil penelitian, gizi daging Kerang Hijau sebanding dengan daging sapi, telur ataupun daging ayam.  Di habitat yang normal, kandungan kerang hijau terdiri dari air, protein, lemak serta karbohidrat.   Kerang Hijau juga  merupakan salah satu sumber mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti besi (Fe),  fosfor (P) , Flour (F), iodium (I), kalsium (Ca), Kalium (K), seng (Zn), selenium (Se) dan lain – lain.  Kandungan mineral tersebut lebih mudah diserap tubuh.  Mengkonsumsi kerang secara teratur berarti mendapat  asupan kalsium yang memadai, sehingga kita dapat terhidar dari penyakit Osteoporosis  dan menambah vitalitas tubuh.

Kerang hijau ini merupakan jenis kerang yang banyak dicari orang, karena dijadikan kudapan kuliner yang menggoda selera.  Namun, untuk ekspor,  Indonesia masih kalah dengan negara-negara lain karena di dalam kerang hijau di Indonesia terindikasi racun logam berat.

Kandungan daging Kerang Hijau  kurang lebih 30% dari berat keseluruhan (daging dan cangkang) hingga dihasilkan cangkang yang cukup melimpah.   Besarnya jumlah limbah cangkang Kerang Hijau yang dihasilkan menimbulkan masalah pembuangan limbah, cangkang kerang yang biasanya dibuang ke laut menyebabkan nilai estetika lingkungan berkurang.  Selain itu, limbah cangkang ini dapat menyebabkan pendangkalan sehingga menyulitkan kapal nelayan sulit untuk keluar masuk saat melaut.  Oleh karena itu diperlukan upaya serius untuk menanganinya agar dapat bermanfaat dan mengurangi dampak negatif terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

Selama ini limbah cangkang Kerang Hijau hanya dimanfaatkan sebagai salah satu material hiasan dinding, hasil kerajinan, atau bahkan sebagai campuran pakan ternak.  Pengolahan limbah tersebut tentunya belum mempunyai nilai tambah yang besar karena masih terbatas dari segi harga maupun jumlah produksinya.

Solusi alternatif yang dapat dilakukan adalah mengolah limbah kerang hijau adalah dengan memanfaatkannya sebagai koagulan alam.  Koagulan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam air  yang bertujuan untuk menjernihkan air melalui proses koagulasi.  Koagulasi merupakan salah satu proses pengolahan air minum dalam meningkatkan kualitas air minum untuk menghasilkan air bersih.  Proses koagulasi berperan dalam menurunkan bahkan dapat menghilangkan kekeruhan dalam air.

Air merupakan kebutuhan manusia yang paling penting, terutama sebagai pelarut ion dan membantu proses metabolisme tubuh.  Air yang kita minum diserap oleh tubuh bersama dengan senyawa maupun unsur yang ada dalamnya.  Oleh karena itu substansi air minum sangat perlu diperhatikan untuk menjaga keamanan dan kesehatan manusia.  Pada umumnya air baku untuk pengolahan air minum berasal dari air sungai yang pada umumnya masih dalam keadaan keruh karena keberadaan partikel-partikel yang  dapat berasal dari berbagai sumber seperti bebatuan ataupun degradasi organisme dalam air ataupun dedaunan yang jatuh ke dalam air.  Salah satu tahap pengolahan pada unit pengolahan air adalah proses koagulasi/flokulasi untuk menghilangkan kekeruhan dalam bentuk materi tersuspensi dan koloid.

Selama ini dalam unit pengolahan air pada proses penjernihan digunakan koagulan sintetik yaitu alum/tawas dan PAC.  Namun penggunaan kedua koagulan tersebut menyebabkan permasalahan baru pada air minum yang mengandung residu alum serta toksisitas sludge/lumpur yang terbentuk.  Dikemukakan oleh Flaten, 2001 dan Roussy, 2005 bahwa penggunaan tawas sebagai koagulan menghasilkan residu yang dapat menyebabkan penyakit Alzheimer.   Selain itu   pemakaian koagulan sintetik pada beberapa perusahaan air minum di Indonesia menghasilkan lumpur dan sedimen yang dibuang kembali ke sungai tanpa melalui tahap pengolahan terlebih dahulu sehingga menimbulkan masalah baru bagi lingkungan karena koagulan sintetik tidak mudah terbiodegradasi.

Hal inilah yang mendorong para peneliti untuk memfokuskan pada pemanfaatan koagulan alam.  Salah satu koagulan alam yang tengah dikembangkan adalah kitosan baik yang berasal dari limbah cangkang Udang, Kepiting dan Kerang Hijau bahkan Biji Kelor (Moringa oleifera) pun dapat dijadikan sebagai koagulan alam.

Kitosan yang digunakan sebagai koagulan memiliki beberapa keuntungan karena sifatnya yang tidak beracun, mudah mengalami biodegradasi, bersifat polielektronik, dan mudah berinteraksi dengan zat-zat organik lainnya seperti protein.

Sehingga diharapkan bahwa koagulan khususnya yang berasal dari cangkang Kerang Hijau merupakan bahan yang ramah lingkungan dan mempunyai nilai tambah yang tinggi.  Hal ini bukan saja memberikan nilai tambah pada usaha budidaya Kerang Hijau, tetapi juga dapat menanggulangi masalah pencemaran lingkungan yang ditimbulkan, terutama masalah bau yang dikeluarkan serta estetika lingkungan yang kurang bagus.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 11 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 12 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 12 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Phsycologhy Dangdut Pengaruhi Cara Pandang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

“Triple Steps Solution” Upaya …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Every Children is Special …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Pemilik Bagasi Lost 500 Juta Rupiah Itu …

Irawan | 8 jam lalu

Habibi & Kakak vs Sentimentil Sang Guru …

Daniel Oslanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: