Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Yovi Toni

hidup optimis di kubangan limbah

Air Bersih atau Air Minum?

OPINI | 17 November 2012 | 16:24 Dibaca: 3493   Komentar: 3   1

1353144102170249981

Air bersih atau air minum? (ilustrasi dari: menshealth.com)

Saat ini kita membedakan air minum dan air bersih dengan cara yang berbeda sebagaimana sebelum tahun 2000. Dulu, cara membedakannya begini: kalau sudah dimasak namanya air minum, yang belum dimasak itu air bersih (air mentah). Sekarang cara membedakannya sudah bergeser: kalau dalam kemasan namanya air minum, yang tidak dikemas itu air bersih. Atau, kalau dari dispenser namanya air minum, dari kran namanya air bersih. Istilah air mentah sudah tidak popular lagi, karena memasak air pelan-pelan ditinggalkan. Teknologi berkembang, cara memandang pun berubah.

Tetapi ketika segelas air sudah ada di depan Anda tanpa jelas asal usulnya, bisakah Anda tahu apakah di dalamnya itu air minum atau air bersih? Atau yang lebih jauh lagi, apakah Anda yakin yang di dalam kemasan atau yang diambil dari dispenser itu benar-benar air minum?

Tahun 1990 kita sudah mempunyai aturan untuk membedakan antara air minum dan air bersih. Menteri Kesehatan yang mengaturnya. Tahun 2002 dan 2010, aturan tentang air minum direvisi, tetapi tentang air bersih masih belum berubah dari tahun 1990. Praktisi pengolahan air menyebutnya aturan ini dengan nama panggilan “Permenkes 1990”.

13531432271800080995

Sebagian standar air bersih dalam Permenkes 1990

13531451311582338482

Sebagian parameter kualitas air minum dalam Permenkes 2010

Di dalam Permenkes tersebut, ada puluhan jenis parameter yang diatur. Tiap jenis parameter diatur berbeda untuk air minum dan air bersih. Beberapa contohnya bisa dilihat di gambar. Misalnya secara fisik, keduanya tidak boleh berbau dan tidak boleh berasa. Untuk warna diukur dengan skala TCU (True Color Unit), maksimal: air bersih 50 TCU, air minum 5 TCU. Kekeruhan diukur dengan skala NTU (Nephelometric Turbidity Unit), maksimal: air bersih 25 NTU, air minum 5 NTU. Dengan mata telanjang, kedua skala ini sama sekali tidak dapat dibedakan. 50 TCU dan 5 TCU sama-sama terlihat tidak berwarna. 5 NTU dan 25 NTU sama-sama terlihat jernih. Dan puluhan parameter kimia lainnya seperti nitrat, amoniak, logam berat, pestisida juga cenderung hampir sama nilainya. Dengan kata lain, hampir seluruh parameter sebenarnya tidak membuat keduanya terlihat berbeda.

1353143524307498421

Ilustrasi bakteri tinja (dari ilovebacterua.com)

Hanya ada satu pembeda yang membuat air minum dan air bersih seperti berada di 2 kutub berbeda: MIKROBIOLOGI (BAKTERI)!!!

Air minum itu benar-benar bebas bakteri dan virus. Keberadaan makluk asing ini tidak bisa bisa ditoleransi, karena air minum itu untuk konsumsi langsung dan langsung terkait dengan kesehatan. Teknologi membunuh bakteri (disinfektasi) inilah yang membuat perbedaan cara pandang kita tentang air minum. Kalau dulu dimasak sampai mendidih, sekarang tidak perlu lagi. Sudah ada teknologi ultra filtrasi, reverse osmosis sebagaimana dipakai oleh air minum dalam kemasan (AMDK). Supaya lebih meyakinkan, digunakan lagi disinfektasi sinar ultra violet, ozonisasi, walaupun masih banyak yang pakai klorinasi. Keluar dari proses, tidak ada lagi mikroba yang bisa hidup, jadilah air minum.

Bagaimana dengan air bersih? Air bersih masih dibolehkan ada bakterinya. Jadi diatur begini: dalam 100 mL (kira-kira setengah gelas) masih boleh ada 10 ekor bakteri, kalau airnya itu air kran. Dan kalau bukan air kran boleh sampai 50 ekor. Dengan kata lain, Menteri Kesehatan mau bilang, air bersih kita tidak perlu benar-benar bersih. Kan tidak langsung diminum. Jadi bersihnya “air bersih” tidak benar-benar bersih.

Bagaimana prakteknya?

Beruntunglah, sebagian besar PDAM kita memproduksi air yang hampir mendekati kualitas air minum. Beberapa PDAM bahkan berani saya katakan sudah sama seperti kualitas air minum. Yang lainnya mungkin masih ada bakterinya tetapi jumlahnya jauh di bawah ambang batas. Tidak ada data yang persis, hanya keberadaan bakteri ini bisa dilihat di berbagai berita yang sudah muncul selama ini. Di situ PDAM dikritik habis-habisan karena ditemukan bakteri E-coli (bakteri tinja) dalam jaringannya. Kalau merujuk ke aturan hukum, PDAM harusnya tidak disalahkan karena mereka menjual “air bersih” bukan “air minum”. Kelihatannya istilah bersih di dalam peraturan menteri tidak sama dengan istilah bersih yang diinginkan masyarakat.

Mungkin istilah air bersih sudah saatnya ditinjau. Seorang rekan kerja dari Jerman pernah berdebat tentang istilah air bersih ini. Bagi dia, kalau masih ada bakterinya, itu bukan air bersih, itu air tercemar. Dia mendebat dengan pertanyaan, “Bagaimana air bersih Anda yang ada bakterinya dipakai untuk sikat gigi, cuci piring atau memandikan bayi. Bukankah air untuk keperluan itu harus juga bebas bakteri?”

Saya menjawab, “Tapi kan kami sebangsa baik-baik saja kok selama ini!”

Dia melotot, “Anda bilang baik-baik saja sementara tiap tahun KLB diare ada di mana-mana, dan penyakit tipus merajalela….”

Lalu bagaimana?

Air bersih dan air minum hanya dapat dibedakan dalam pengukuran laboratorium dan bukan dengan mata telanjang. Standar air bersih kita sudah sangat ketat sepanjang mengatur parameter fisik dan kimiawi, tetapi terlalu longgar untuk parameter mikrobiologis (walaupun diketahui sebagian besar bakteri E-coli tidak berbahaya!). Tingginya tingkat penyakit diare, tipus dan cacingan juga karena lemahnya kita mengatur standar mikrobiologi air bersih. Kalau kita bercermin di negara-negara maju, mereka mengatur bahwa semua air yang mengalami kontak dengan manusia, harus bebas bakteri. Kelihatannya perjalanan kita masih panjang menuju ke sana. Makanya, kampanye CPTS (Cuci Tangan Pakai Sabun) adalah salah satu yang dipilih untuk mengatasi gap tersebut.

Kuis:

Menurut Anda, kolam renang itu harusnya diisi air bersih atau air minum?

Catatan:

Untuk aturannya, silahkan baca:

Permenkes 416/Menkes/Per/IX/1990, Tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air

Permenkes 492/Menkes/Per/IV/2010, tentang Persyaratan Kualitas Air Minum

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Keluarga Pejabat dan Visa Haji Non Kuota …

Rumahkayu | | 30 September 2014 | 19:11

Me-“Judicial Review” Buku Kurikulum …

Khoeri Abdul Muid | | 29 September 2014 | 22:27

Spongebob dalam Benak Saya …

Ire Rosana Ullail | | 30 September 2014 | 16:48

Sepak Bola Indonesia Kini Jadi Lumbung Gol …

Arief Firhanusa | | 30 September 2014 | 15:58

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Indahnya Teguran Allah …

Nduk_kenuk | 9 jam lalu

Kumpulan Berbagai Reaksi Masyarakat …

Elvis Presley | 11 jam lalu

Asian Games Incheon: Kagum atas Pelompat …

Hendi Setiawan | 13 jam lalu

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 14 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Smartphone dan Pribadi Boros Energi …

Dian Savitri | 8 jam lalu

Gerakan Indonesia Menulis; Mencari Nilai …

Rendra Manaba | 8 jam lalu

Pegawai BRI Beraksi Bak Debt Collector …

Rusmin Sopian | 8 jam lalu

Tradisi dan Teknologi …

Susy Haryawan | 8 jam lalu

Pisah Sambut Kejari Singaparna …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: