Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Nunung Nuraida

teacher, English, novel, x-files, Rayhan http://nunungnuraida.wordpress.com

Kerang Hijau Tidak Layak Konsumsi

HL | 09 February 2013 | 17:26 Dibaca: 7609   Komentar: 0   12

13604091691436587417

Ilustrasi/Admin (Shutterstock)

Kalau ingat kerang hijau, pasti saya langsung teringat putra saya. Betapa cinta dia dengan kerang hijau sampai-sampai ketika saya ajak ke Chicken Hartz Buffet, dia bisa menghabiskan 6 porsi kerang hijau saja! Sementara makanan lainnya tidak ia sentuh sedikitpun. Makanya kalau di satu restoran ada menu kerang hijau, pastinya itu menjadi pilihan utama dia.

Sayangnya, saya sempat ngeper juga menonton metro tv sore ini. Pasalnya, di acara terbaru mereka yang bertajuk 3 60, pemberitaan yang diwartakan cukup mengejutkan. Disampaikan bahwa kerang hijau produksi teluk Jakarta sudah tidak layak konsumsi. Artinya kerang hijau sudah sangat tercemar dan banyak mengandung racun di dalamnya.

Tercemarnya kerang hijau tentu tidak lepas dari tercemarnya teluk Jakarta yang menurut penelitian, merupakan teluk paling tercemar di Asia. Sebenarnya, penetapan teluk Jakarta sebagai teluk paling tercemar ini berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun 1979. Sayangnya, kondisi ini tampaknya dibiarkan saja oleh pemerintah. Buktinya, sampai saat ini, praktek budidaya dan pencarian kerang hijau di teluk Jakarta masih berlangsung dan tidak ada tanda-tanda larangan apapun dari pihak terkait yang menyatakan bahwa kerang hijau yang berasal dari teluk Jakarta tidak layak konsumsi, alias beracun.

Padahal, pemasaran kerang hijau ini sudah mencapai daerah-daerah pinggiran Jakarta, semisal Bekasi. Sering saya jumpai penjual kerang hijau keliling yang sudah diolah. Konsumen tinggal memakannya saja. Entah kerang hijau yang mereka jual berasal dari teluk Jakarta atau bukan. Jika saja iya, maka kemungkinan besar banyak masyarakat yang sudah secara tidak langsung menyimpan racun di tubuh mereka.

Kebetulan, putra saya seringnya mengkonsumsi kerang hijau di salah satu restoran cepat saji yang cukup ramai pengunjung, seperti D’Cost. Apakah restoran ini menyuplai kerang hijau dari teluk Jakarta? Entahlah. Tapi sepertinya pihak restoran harus mulai waspada dengan suplai kerang hijau mereka.

Pastinya, jika konsumsi kerang hijau yang tercemar ini masih dilakukan, tidak menutup kemungkinan akan memunculkan berbagai penyakit. Salah satu penyakit yang terjangkit karena mengkonsumsi kerang hijau tercemar adalah minamata. Penyakit ini merupakan penyakit karena mengkonsumsi makanan yang mengandung merkuri yang berlebihan. Umumnya disebabkan karena air limbah.

Hal ini tentunya harus menjadi perhatian banyak pihak, terutama kementrian kelautan. Karena jika masyarakat dibiarkan mengkonsumsi kerang hijau yang tercemar, dikhawatirkan banyak masyarakat yang terjangkit penyakit minamata. Padahal sebenarnya kerang hijau itu sangat bagus untuk kesehatan.

Menurut penelitian didalam 100 gram kerang mengandung 33 persen vitamin B12 dari kebutuhan harian yang dibutuhkan oleh tubuh kita. Mengkonsumsi vitamin B12 juga akan melindungi kolon dari kanker, karena vitamin B12 mampu mencegah terjadinya mutasi sel. Kerang juga kaya akan asam lemak omega 3, kalium serta magnesium, zat-zat ini mempunyai manfaat yang baik membantu kinerja  sistem kardiovaskular, sehingga baik untuk menjaga kesehatan jantung. Tentu jika kerang hijau itu dikonsumsi dalam keadaan terbebas dari zat merkuri.

Semoga saja pemerintah bisa mengembalikan kondisi teluk Jakarta menjadi teluk bebas pencemaran kembali sehingga para nalayan pun dapat mencari kerang hijau yang sehat. Dan tentu tetap melanggengkan mata pencaharian mereka sebagai pencari kerang hijau.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pasar Mama-Mama Asli Papua, Oase Bagi Orang …

Fransiskus Xaverius... | | 21 April 2014 | 17:15

2500 USD Belum Cukup Membayar Keamanan Anak …

Agung Soni | | 21 April 2014 | 16:53

Menjadi Sahabat Istimewa bagi Pasangan Kita …

Cahyadi Takariawan | | 21 April 2014 | 07:06

Bicara Tentang Orang Pendiam dan Bukan …

Putri Ratnaiskana P... | | 21 April 2014 | 10:34

Yuk, Ikuti Kompasiana Nangkring bareng …

Kompasiana | | 15 April 2014 | 20:47


TRENDING ARTICLES

Demonstrasi KM ITB: Otokritik untuk …

Hendra Wardhana | 8 jam lalu

Bagaimana Rasanya Bersuamikan Bule? …

Julia Maria Van Tie... | 13 jam lalu

PDIP dan Pendukung Jokowi, Jangan Euforia …

Ethan Hunt | 14 jam lalu

Akuisisi BTN, Proyek Politik dalam Rangka …

Akhmad Syaikhu | 16 jam lalu

Jokowi-JK, Ical-Mahfudz, Probowo-…? …

Syarif | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: