Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Luqman Arif

mahasiswa ilmu pemerintahan UB menyimak dan mengamati!

LPG-3K

OPINI | 10 March 2013 | 07:39 Dibaca: 316   Komentar: 0   0

1362875739129558764

WEAPON OF LOW LIVED DESTRUCTION

Melihat gambar ini membuat kita teringat, bahwa pada masa awal konversi minyak tanah ke gas alam (Elpiji) kerap kali diberitakan adanya tabung elpiji 3 kilo yang meledak dan memakan korban. Gas elpiji termasuk gas yang dapat berbentuk cair pada tekanan dan suhu rendah, namun jenis gas ini mempunyai sifat dan kelakuanyang sangat berbahaya karena mudah terbakar dan mudah meledak, tidak beracun tetapi bila terhirup lebih dari 1.000 ppm atau 0.1% (100%=1.000.000 ppm) akan menyebabkan mengantuk, mimpi kemudian meninggal.

Ada beberapa sebab dari mudahnya elpiji 3 kilo yang beredar dimasyarakat rawan meledak tapi secara umum adalah karena adanya kebocoran. Terkadang kebocoran terjadi karena sambungan selang yang berpori dan berkualitas buruk sehingga bisa ditembus oleh gas, terkadang juga kebocoran melalui katup dari tabung itu sendiri yang tidak pas dari dudukannya atau karena regulator yang ditancapkan kurang kokoh dan karet pengaman yang tidak pas sehingga ada kebocoran .

Kebocoran gas elpiji sangat berbahaya karena berat massa gas elpiji lebih berat 2 kali dari udara, dengan artian kebocoran akan sulit dideteksi karena elpiji yang merambat dilantai kadangkala tidak tercium oleh orang yang berdiri apalagi elpiji yang merambat dibawah tidak akan bisa dihisap oleh cerobong asap ataupun exhaust fan yang ada didapur.

Kandungan gas elpiji antara 1.8%-10% diudara bisa menimbulkan ledakan dasyat bila tersulut api,daya hancurnya berlangsung secara berantai, kekuatannya tergantung dari jumlah campuran yang meledak. Pada saat meledak, seluruh oksigen disekitar situ akan terbakar dan menciptakan hampa udara, sehingga selain menimbulkan luka bakar juga menimbulkan kesulitan bernafas dan memporak-porandakan wilayah sekitarnya karena adanya arus udara yang bolak-balik, walaupun elpiji yang meledak cenderung tidak diikuti oleh kebakaran.

Tapi saya yakin gambar diatas bukan dibuat untuk menerangkan kenapa tabung elpiji 3 kg mudah sekali meledak yang dibuktikan dengan timbulnya banyak korban. Gambar diatas mempertanyakan kenapa pemerintah tetap mendistribusikan tabung elpiji yang mempunyai resiko membahayakan masyarakat, tabung elpiji diibaratkan bom yang siap meledak dan menghancurkan rumah penduduk. Secara tidak langsung gambar ini juga menyalahkan pemerintah atas korban yang ditimbulkan tabung lpg 3kg, tetapi bagaimanapun pemerintah tidak bisa dimintai pertanggung jawaban dan dituntut karena pemerintah bagaikan pesawat yang terbang tinggi diawan dan tidak bisa digapai.

Selain sebagai sarana hujatan atas bahaya tabung lpg 3kg, gambar ini juga seakan mengejek kemampuan militer indonesia, lebih tepatnya Angkatan Udara Indonesia, seperti yang kita tahu teknologi militer kita jauh tertinggal, bahkan muncul anekdot kalau pesawat indonesia melintas nga usah ditembak, biarkan saja, toh nanti juga jatuh sendiri. Sampai sekarang segala peralatan tempur udara mulai dari pesawat, rudal sampai onderdilnya masih tergantung dari pihak luar negri, itupun yang kelas rendahan dan out dated.

Seakan mengatakan, “indonesia sudah berhasil menciptakan senjata penghancur dengan harga yang murah dan bisa diproduksi massal!”. Indonesia tak perlu lagi menghabiskan anggaran dana untuk membeli peralatan tempur, cukup pakai elpiji 3 kg sudah bisa dipakai membombandir musuh.

Karena selama ini yang menjadi korban dari lpg 3kg adalah masyarakat, maka yang saya tangkap adalah sebaliknya, yaitu:

” kami tidak mau ada senjata yang bisa meledak didapur kami “

” lakukan perbaikan pada tabung lpg-nya, kalo nga diperbaiki pake aja sebagai ganti bom pesawat kita”

Itulah kira-kira yang ingin disampaikan gambar diatas, bahwa ada yang salah dengan tabung lpg 3kg yang harusnya untuk keperluan rumah tangga tetapi bisa menimbul korban dan ketakutan masyarakat.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

(Foto Essai) Menyambut Presiden Baru …

Agung Han | | 20 October 2014 | 20:54

Inilah Reaksi Mahasiswa Australia untuk …

Tjiptadinata Effend... | | 20 October 2014 | 19:16

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Najwa Shihab Jadi Menteri? She Is A Visual …

Winny Gunarti | | 21 October 2014 | 07:08

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39


TRENDING ARTICLES

20 Oktober yang Lucu, Unik dan Haru …

Alan Budiman | 2 jam lalu

Tangisan Salim Said & Jokowi’s …

Iwan Permadi | 4 jam lalu

Off to Jogja! …

Kilian Reil | 6 jam lalu

Antusiasme WNI di Jenewa Atas Pelantikan …

Hedi Priamajar | 9 jam lalu

Ini Kata Koran Malaysia Mengenai Jokowi …

Mustafa Kamal | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Trans TV, Raffi Is Not Our Prince! …

Gilang Parahita | 8 jam lalu

Merencanakan Anggaran untuk Pesta Pernikahan …

Cahyadi Takariawan | 8 jam lalu

Koalisi Akal Sehat Mengawal Pelantikan …

Effendi Siradjuddin | 8 jam lalu

Selamat Bertugas Pak Jokowi …

Toni Pamabakng | 8 jam lalu

Misteri Hantu Rumah Tua …

Raphael Jose Riberu | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: