Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Dhanang Dhave

Biologi yang menyita banyak waktu dan menikmati saat terjebak dalam dunia jurnalisme dan fotografi saat selengkapnya

Pohon yang Bercabang Paku

HL | 22 March 2013 | 09:57 Dibaca: 981   Komentar: 10   6

“Promosi Kesehatan Mental”

b3ced69004183d6f2bef790972285218

“Promosi Kesehatan Mental” begitu kira-kira pesan yang tersampaikan pada sebuah poster yang terpampang disebuah batang pohon. Mata saya awalnya tertuju pada gambar dan tulisan tiba-tiba terjebak pada sebuah benda aneh yang menancap. Paku itu nampak kokoh menembus bambu pengapit poster yang membentang lebar. Sekilas poster yang menekankan kesehatan mental tiba-tiba menjadi bumerang saat pesan itu tidak tersampaikan pada pemasang poster.

Memang tidak ada yang salah dengan poster tersebut, namun paku yang menancap itulah yang membuat mata risih. Seharusnya pesan kesehatan mental itu pertama kali harus menancap pada pemasang posternya, setelah itu baru pada obyeknya. Entah mengapa tiba-tiba mental saya mendadak sakit gara-gara melihat paku ini.

44b3dcc7555e0554e74be4f237f3b066

Teknologi percetakan saat ini memang berkembang dengan pesatnya. Konsekuensi logisnya adalah mau ditaruh dimana produk percetakan sebagai media promosi. Dari jualan obat kuat, kredit sepeda motor hingga jualan citra calon pemimpin begitu marak saat ini. Batang-batang pohon yang ada dipinggir jalan adalah media yang strategis untuk menempatkan produk jualannya.

ef81896ff3e91d4cf983d38bb616236d

Cara memasang poster, umbul-umbul, pamflet dan lain sebagainya juga bermacam-macam tekniknya. Dengan lem kanji adalah cara yang murah meriah namun ribet karena harus menenteng ember dan kuas. Mengikat dengan tali atau kawat juga ada, namun jarang yang melakukannya karena sulit sebeb harus menyimpul atau melintirnya dengan tang. Paling cepet, efektif, murah meriah adalah dengan menancapkan paku.

Paku-paku hampir ada disetiap pohon yang ada dipinggir jalan. Apa salah pohon tersebut sehingga harus menderita di hamtam palu dengan paku yang menghunus. Dalah pohin tersebut adalah ditanam dan tumbuh ditempat yang stategis, coba dia ada di tenggah hutan pasti akan lain cerita.

Sebenarnya tidak ada masalah yang serius jika pohon mendapat perlakuan tersebut, sebab dia tidak protes juga. Yang protes adalah mata yang risih melihat barang yang tak semestinya ada disana. Sel-sel tumbuhan memiliki mekanisme perbaikan diri saat ada yang melukainya, sehingga paku-paku yang melukai tak jadi masalah. Masalahnya adalah banyak yang tidak terima ada pohon yang disakiti dan dijadikan media promosi gratis.

Awalnya pepohonan dipinggir jalan itu ditanam sebagai batas jalan. Selain itu jenis tanaman tertentu digunakan sebagai tanaman peneduh, seperti angsa, asam jawa dan mahoni. Sisi lain adalah perakarannya yang kuat mampu menahan tanah yang labih sehingga jalan akan semakin kokoh. Fungsi ekologis lain adalah untuk menyerap polusi udara, pengahsil oksigen, tameng sinar matahari, menciptakan mikroklimat sejuk, menahan angin. Tidak ada peruntukan batang pohon untuk dipaku guna memasang poster.

Karena letaknya strategis dan banyak yang lewat lalu melihat maka jadilah sebagai tempat masang jualan. Tidak sedikit aturan yang melarang memasang apapun dipohon dan dengan cara apapun, namun aturan tinggalah aturan. Beberapa kajadian muncul seperti pagi hari para aparat katakanlah polisi pamong praja melakukan pembersihan, namun keesokan harinya terpasang lagi dengan ukuran yang lebih besar dan sulit dijangkau. Pembersihan yang dilakukan aparat sepertinya tak menimbulkan efek jera, namun memberi kesempatan untuk gantian pemasang berikutnya karena tempatnya sudah bersih.

8257cc1ba5f433de7baaee991a959e70

Kembali ke masing-masing sudat pandang saja. Jika anda nyaman dengan pohon-pohon yang bercabangkan bambu, berdaunkan MMT dan berbuah cat warna-warni maka nikmatilah kemeriahannya. Jika anda risih dengan pohon yang berhiaskan aneka macam promo, setidaknya ambil tinkdakan untuk tidak melakukan itu dan mengkampanyekannya. Sebuah harapan besar, pohon-pohon yang memberi layanan ekologis biarlah berfungsi sebagaimana mestinya tanpa harus menanggung beban promosi yang bersifat politis dan kapitalis.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Serangan Teror Penembakan di Gedung Parlemen …

Prayitno Ramelan | | 24 October 2014 | 06:00

Petualangan 13 Hari Menjelajahi Daratan …

Harris Maulana | | 24 October 2014 | 11:53

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46

Proses Kreatif Desainer Kover Buku The Fault …

Benny Rhamdani | | 24 October 2014 | 14:11

Bagi Cerita dan Foto Perjalanan Indahnya …

Kompasiana | | 22 October 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 4 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 5 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 7 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 7 jam lalu

Jokowi Tunda Tentukan Kabinet: Pamer …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Ada Esensi Pembelajaran Hidup dalam Lagu …

Yunety Tarigan | 8 jam lalu

Aplikasi Info KRL Anti-ketinggalan Kereta …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Review “The Giver” : Kegagalan …

Irvan Sjafari | 8 jam lalu

Sudah Siapkah Indonesia Menghadapi AFTA …

Ira Cahya | 8 jam lalu

Brisbane akan jadi “Ibu Kota …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: