Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Nicky Rahmana Putra

chemical engineering ITS/SMAN 5 Bogor/XII_ipad

Pengolahan Limbah Rumah Tangga Menggunakan Alat Composting Machine Sederhana Skala Rumah Tangga

REP | 09 May 2013 | 10:41 Dibaca: 1566   Komentar: 2   0

Sampah rumah tangga merupakan  masalah yang dianggap sepele oleh masyarakat  Indonesia. Meskipun begitu sampah rumah tangga dapat menjadi sangat berbahaya bagi lingkungan sekitar, mulai dari masalah bau yang ditimbulkan ataupun masalah yang berupa membawa penyakit bagi lingkungan yang disekitarnya. Di Indonesia sendiri sampah rumah tangga kurang dilirik menjadi sebuah bisnis yang sangat menguntungkan. Karena sebagian masyarakat indonesia masih kurang adanya penyuluhan atau pemberi pengetahuan bahwa sampah itu dapat berguna sebagai barang yang di daur ulang atau barang yang bisa dibentuk menjadi barang lebih berguna lagi. Sampah dapat dibedakan menjadi dua yaitu sampah organik dan sampah anorganik.sampah organik yaitu sampah yang  prosesnya dapat dibusukkan sedangkan sampah anorganik merupakan sampah yang tidak dapat dibusukkan.

Sampah organik biasanya banyak ditemukan di pasar-pasar tradisional berserakan di jalan. Ini terjadi karena penjual kurang tahu manfaat dari sampah organik tersebut. Oleh karena itu, tujuan kami membuat alat ini yaitu dapat mengurangi atau membantu masyarakat dalam mengatasi masalah sampah yang ada dengan alat composting machine sederhana. Dengan alat ini kita dapat mengurangi sampah rumah tangga skala kecil. Cara penerapan proses composting ini tidak terlalu sulit, bahkan cukup sederhana. Mesin pembuat kompos sederhana dapat diterapkan di tiap rumah tangga. Mesin pembuat kompos ini terbuat dari semacam ember yang dipasang penggiling yang berguna untuk menggiling sampah sampah tersebut. Lalu yang dibutuhkan adalah pembusuk dari sampah tersebut.Organisme yang banyak dipergunakan adalah mikroba, baik bakeri, aktinomicetes, maupuan kapang/cendawan. Saat ini dipasaran banyak sekali beredar aktivator-aktivator pengomposan, misalnya :MARROS,BioActiva,Green,Phoskko(GP1), Promi, OrgaDec, SuperDec,ActiComp, EM4, Stardec, Starbio, BioPos, dan lain-lain. Biaya produksi mesin pembuat kompos ini tidak mahal,hanya sekitar 100 ribu rupiah per unit akan tetapi skala produksi kompos harus diterapkan secara langsung ke tiap tiap rumah tangga, karena apabila alat pembuat kompos ini ditempatkan di TPS maka prosesnya akan memakan waktu terlalu lama.

Struktur alat pembuat kompos ini sangat sederhana,cukup menambahkan saluran udara dan penggiling pada ember dan penutup ember tersebut. Proses pembuatan kompospun sangat mudah, cukup masukkan sampah organik atau sampah basah, lalu campur dan aduk sampah dengan menggunakan penggiling yang terpasang di alat, campurkan aktivator pengomposan dan diaduk kembali. Setelah diaduk selama lima menit tutup alat pembuat kompos dan biarkan selama beberapa hari.Setelah itu kompos siap digunakan. Dari segi bisnis, pupuk kompos lebih mudah dibuat dibandingkan pupuk kimia, selain itu biaya produksinya pun lebih murah dan proses pembuatannya lebih mudah.

Keuntungan yang didapat dari proses composting machine sangat banyak yaitu dapat mengurangi sampah rumah tangga yang ada, menambah penghasilan karena setelah sampah telah menjadi pupuk, kita dapat menjual pupuk itu ke petani ataupun kita gunakan sendiri untuk kebun kita sendiri,mencegah kerusakan lingkungan karena sampah yang digunakan telah diproses atau telah dikurangi volumenya.

Kami simpulkan bahwa limbah rumah tangga yang biasanya dianggap sepele atau tidak berguna memiliki keuntungan yang tinggi. Karena bahannya sendiri mudah dicari atau tidak memiliki harga yang tinggi tetapi memiliki harga jual yang tinggi melalui alat composting machine sederhana. Alat ini tidak terlalu mahal Cuma sekita 100 ribu rupiah saja tapi telah menolong atau membantu orang banyak dalam proses pengolahan sampah.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Perpu Pilkada Adalah Langkah Keliru, Ini …

Rolas Jakson | | 01 October 2014 | 10:25

3 Kesamaan Demonstrasi Hongkong dan UU …

Hanny Setiawan | | 30 September 2014 | 23:56

Punya Ulasan Seputar Kependudukan? Ikuti …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 10:29

Kompasiana “Mengeroyok” Band Geisha …

Syaiful W. Harahap | | 01 October 2014 | 11:04

Ikuti Blog Competition “Aku dan …

Kompasiana | | 30 September 2014 | 20:15


TRENDING ARTICLES

Tanpa Ibra, PSG Permalukan Barca …

Mike Reyssent | 5 jam lalu

Benefit of Doubt: Perpu dari SBY …

Budiman Tanjung | 7 jam lalu

Masalah Pilkada: Jangan Permainkan UU! …

Jimmy Haryanto | 7 jam lalu

Beraninya Kader PAN Usul Pilpres oleh MPR, …

Sahroha Lumbanraja | 8 jam lalu

Guru Pukul Siswa, Gejala Bunglonisasi …

Erwin Alwazir | 14 jam lalu


HIGHLIGHT

Daffa (2thn) Atlit Cilik Taekwondo …

Muhammad Samin | 7 jam lalu

Fatimah Hutabarat, Derita di Penjara …

Leonardo | 8 jam lalu

Anak Muda Haruskah Dipaksa? …

Majawati Oen | 8 jam lalu

Gigi berlubang Pada Balita …

Max Andrew Ohandi | 8 jam lalu

Sosialisasi Khas Warung Kopi …

Ade Novit | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: