Back to Kompasiana
Artikel

Polusi

Berita Hari Ini

Portal berita terupdate hari ini. Dijalankan dari tiga lokasi: Medan, Pekanbaru, dan Jakarta untuk semua selengkapnya

Kabut Asap Riau 2013, Terparah!

REP | 23 June 2013 | 14:48 Dibaca: 1379   Komentar: 2   1

13719732602111659806

Kabut asap yang melanda Propinsi Riau sepertinya merupakan kabut asap terlama. Hingga menjelang akhir bulan Juni, kabut asap belum juga berkurang, justru semakin padat. Asap tak lagi hanya berupa kabut namun juga disertai partikel debu padat.

Seperti yang awam diketahui masyarakat bahwa kabut asap bisa terjadi dikarenakan dua hal, pertama kebakaran hutan, dan kedua dikarenakan pembakaran lahan hutan untuk perkebunan. Menteri Pertanian, Suswono menyatakan, izin sejumlah perusahaan yang terbukti melakukan pembakaran atau sengaja membiarkan lahan perkebunannya terbakar akan dicabut.

“Kalau terbukti, akan dicabut izin usahanya. Pembuktiannya akan dilakuakan melalui investigasi bersama pihak kepolisian dan Kementerian Lingkungan Hidup,” kata Suswono dalam jumpa pers di Pekanbaru usai mengadakan pertemuan bersama para menteri lainnya membahas persoalan kebakaran lahan di Riau, Jumat (21/06/2013).

Suswono menyebut, sesuai dengan aturan, kata Suswono, perusahaan perkebunan besar yang memperoleh izin usaha perkebunan disyaratkan wajib tidak melakukan pembakaran dalam penyiapan lahan dan mengelola sumber daya alam secara alami. Perusahaan perkebunan, selaku pemegang izin usaha perkebunan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap lahan yang menjadi konsesinya dan ikut membina areal perkebunan di sekitarnya agar tidak terbakar atau dibakar.


Asal Muasal Kabut Asap Riau

Berdasarkan pemantauan satelit pemantau cuaca dan pendeteksi panas bumi (NOAA) milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Riau, yang merekam pada Selasa, 18 Mei 2013, terdeteksi ada 148 titik panas di Riau.

Dari hasil pemantuan Dinas Kehutanan Riau, titik yang terekam satelit sebagian berada di areal perkebunan dan hutan tanaman industri milik perusahan asing asal Malaysia.

“Jadi kami meluruskan itu bukan data yang dikeluarkan Dinas Kehutanan. Titik panas itu terekam satelit BMKG dan dari peta kami melihat kawasan itu berada di perkebunan warga dan milik asing,” kata Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Riau, Zulkifli Yusuf.

Dari penjelasan Zulkifli, dari rekaman satelit wilayah yang terbakar diduga adalah perkebunan milik pemodal asing, di antaranya PT Langgam Inti Hibrida, yang berada di kawasan Desa Sering, Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, yang merupakan milik Malaysia. Titik panas lain berada di perkembunan milik PT Bumi Reksa Nusa Sejati yang berada di Desa Simpang Kareman, Kecamatan Pelagiran, Kabupaten Indragiri Hilir.

Lahan lainnya yang terbakar adalah milik PT Tunggal Mitra Platation, PT Abdi Platation, PT Jati Jaya Perkasa, PT Udaya Loh Dinawi dan PT Mustika Agro Lestari. Semua lahan tersebut milik perusahaan dengan modal asing dari Malaysia.

Kabut Asap Mempengaruhi Kesehatan

Sampai tadi malam, aktivitas masyarakat Pekanbaru, Riau masih terganggu kabut asap akibat kebakaran lahan. Kabut asap pekat bahkan meluas hingga ke Singapura. Hal ini berisiko memunculkan gangguan kesehatan bagi mereka yang terpapar.

Seperti diberitakan sebelumnya, Sabtu (22/06/2013) kemarin, kondisi kota Batam juga ikut diselimuti kabut asap, namun operasional Bandara Hang Nadim Batam masih berjalan lancar dengan jarak pandang 1 km. Keseluruhan aktivitas di kota ini masih berjalan lancar atau belum ada gangguan.

Kabut asap akibat kebakaran lahan di area perhutanan di Riau juga sempat menyebabkan aktivitas Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II di Pekanbaru sempat terganggu. Jarak pandang yang sangat terbatas menyebabkan pesawat tidak bisa melakukan pendaratan.

Menurut Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan RI, kabut asap ternyata tidak hanya menyerang saluran pernapasan, namun juga organ-organ vital lainnya, terutama pada lansia dan anak-anak. “Pada kondisi kesehatan tertentu, orang akan menjadi lebih mudah mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap dibandingkan orang lain, khususnya pada orang dengan gangguan paru dan jantung, lansia, dan anak-anak,” kata Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Minggu (23/6/2013).

Prof. Tjandra menyebutkan bahwa secara umum, kabut asap dapat mengganggu kesehatan semua orang, baik yang dalam kondisi sehat maupun sakit. Ada beberapa macam gangguan kesehatan yang dapat terjadi akibat terpapar kabut asap, yaitu:
1. Menyebabkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan, serta menyebabkan reaksi alergi, peradangan dan mungkin juga infeksi.
2. Memperburuk asma dan penyakit paru kronis lain, seperti bronkitis kronik, PPOK dll.
3. Kemampuan kerja paru menjadi berkurang dan menyebabkan orang mudah lelah dan mengalami kesulitan bernapas.
4. Mereka yang berusia lanjut dan anak-anak, juga mereka yang punya penyakit kronik dengan daya tahan tubuh rendah akan lebih rentan mendapat gangguan kesehatan
5. Kemampuan paru dan saluran pernapasan mengatasi infeksi berkurang, sehingga menyebabkan lebih mudah terjadi infeksi.
6. Secara umum, maka berbagai penyakit kronik juga dapat memburuk
7. Bahan polutan di asap kebakaran hutan yang jatuh ke permukaan bumi juga mungkin dapat menjadi sumber polutan di sarana air bersih dan makanan yang tidak terlindungi
8. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) jadi lebih mudah terjadi, utamanya karena ketidakseimbangan daya tahan tubuh, pola bakteri atau virus penyebab penyakit dan buruknya lingkungan

Untuk melindungi diri dari dari risiko gangguan kesehatan akibat kabut asap, prof Tjandra menganjurkan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Sedapat mungkin hindari atau kurangi aktivitas di luar rumah atau gedung, terutama bagi mereka yang menderita penyakit jantung dan gangguan pernafasan.
2. Jika terpaksa pergi ke luar rumah atau gedung maka sebaiknya menggunakan masker.
3. Minum air putih lebih banyak dan lebih sering
4. Bagi yang telah mempunyai gangguan paru dan jantung sebelumnya, mintalah nasehat kepada dokter untuk perlindungan tambahan sesuai kondisi. Segera berobat ke dokter atau sarana pelayanan kesehatan terdekat bila mengalami kesulitan bernapas atau gangguan kesehatan lain.
5. Selalu lakukan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS), seperti makan bergizi, jangan merokok, istirahat yang cukup.
6. Upayakan agar polusi di luar tidak masuk ke dalam rumah atau sekolah atau kantor dan ruang tertutup lainnya
7. Penampungan air minum dan makanan harus terlindung baik.
8. Buah-buahan dicuci sebelum dikonsumsi. Bahan makanan dan minuman yang dimasak perlu di masak dengan baik.

(arya)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Jangan Kacaukan Indonesiaku! …

Eki P. Sidik | 8 jam lalu

Jersey Baru, Semoga Ada Juga Prestasi Baru …

Djarwopapua | 8 jam lalu

Perpuskota Jogja Menjadi Wahana Wisata …

Iis Ernawati | 8 jam lalu

Intip SDM Kesehatan era JKN : Antara …

Deasy Febriyanty | 8 jam lalu

Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Saya …

Andri Yunarko | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: